Kamis, 2008 Mei 08

Dalam Ayunan Selendang Waktu

Terayun-ayun jiwaku diatas lembaran waktu
Menerbangkan diriku diatas mahligai rindu
Melesakkan sukmaku diantara suara merdu
Menyuguhkan didepanku sepercik madu

Kau kalungi diriku dengan selendang cinta
Dan mengajakku memasuki acara pesta sederhana
Mendekapku dengan pelukan hangat penuh jiwa
Merajut serat-serat cinta yang sehalus asmara
Menjahit kesetiaan seindah nirwana mega

Tak pernah aku rasakan
Ketulusan selain milikmu
Tak pernah aku kecap rasa ini
Manisnya cinta yang kau suguhkan
Membasuh dahaga nan lara
Beningnya pesona jiwa darimu
Mencuci pekat hitam sukmaku

Jumat, 2008 April 25

ANGKRINGAN DAN INDONESIA BARU

Hari ini cuaca agak mendung dan lumayan panas. Karena di rumah gak ada kulkas, akhirnya aku keluar untuk minum segelas es teh di sebuah angkringan (warung koboi) dekat rumah dan melepas kepenatan karena menumpuknya tugas-tugas kuliah .

Di warung cukup lumayan rame malam ini, tampaknya tak hanya diriku yang kegerahan. Banyak juga disitu para pekerja bangunan yang sedang bekerja membangun sebuah pertokoan nampaknya juga sedang duduk-duduk sambil menikmati minuman pesanan mereka. Iseng-iseng aku sedikit menyimak pembicaraan mereka.

Mereka nampaknya sedang membicarakan tentang masa depan anak-anak mereka di tengah carut-marut bangsa ini. Salah satu dari mereka berkata bahwa ia terpaksa hanya menyekolahkan anak mereka cuma sampai SMP saja. Menurutnya ia tak mampu membiayai sekolah anaknya karena terus melonjaknya harga kebutuhan pokok. Ucapan ini disambut oleh seorang teman bapak tersebut. Temannya tersebut menyahut dengan mengatakan bahwa "Benar sajalah, buat apa sekolahin anak sampai tinggi-tinggi, orang toh pada akhirnya untuk mencari pekerjaan juga sulit. Zaman sekarang kata bapak itu, nyari kerja juga harus butuh D3 katanya." Iseng-iseng aku tanya apa maksud D3 tersebut, lalu sambil menghisap rokoknya dalam-dalam bapak yang aku tanya tersebut menjawab Duit (Uang), Dulur (Saudara), Dukun, kami semua yang sedang duduk-duduk dengan santai menyambut dengan tawa ucapan salah seorang pekerja bangunan tersebut.

Ketika masih penasaran dengan maksud bapak itu aku bertanya lagi tentang penjelasan maksud jawabannya tadi. Lalu sambil menikmati rokok dan minumannya, bapak tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah apabila kita mencari kerja awalnya sudah harus menyetorkan uang untuk dapat diterima, selain itu juga harus ada orang dalam (dulur), dan terakhir kata bapak itu selain dua syarat tadi kita juga butuh bantuan dukun, karena orang sekarang lebih banyak yang percaya kepada dukun daripada Tuhan. Katanya sekarang saja sudah banyak dukun-dukun (paranormal) yang mempromosikan diri bahkan lewat televisi.

Pembicaraan tersebut kemudian beralih kepada pembicaraan mengenai harga-harga kebutuhan pokok, politik dan saling menceritakan tentang pengalaman kerja mereka di suatu tempat. Iseng-iseng lagi aku bertanya pada mereka tentang Presiden seperti apa sih yang mereka inginkan pada pemilu mendatang. Salah seorang dari mereka menjawab, "kalau saya ya yang penting Presiden yang tidak menaikkan harga minyak mas, " jawab salah seorang dari mereka. Kemudian salah seorang dari mereka menambahkan karena kalau harga minyak naik terus, kebutuhan pokok juga pasti naik. Apalagi sekarang harga beras minta ampun mahalnya, beras bantuan juga sudah tidak layak untuk dimakan. "Masak zaman yang katanya sudah merdeka ini kita harus makan Gaplek (ketela/ubi) lagi, kayak zaman perang aja," salah seorang dari mereka menyambung temannya.

Ketika dipikir kembali, apa yang mereka utarakan di warung tersebut adalah salah satu potret dari keadaan rakyat bangsa ini yang sangat merindukan sebuah perbaikan kehidupan. Dari ide-ide dari merekalah selayaknya Indonesia di bangun kedepannya. Mungkin para pemimpin negara ini kadang-kadang juga harus ikut duduk diantara mereka, diwarung yang sederhana untuk mendengarkan harapan dari rakyatnya. AMIN.......

Selasa, 2008 April 22

BELAJAR DARI ANAK TK

Ketika melihat anak-anak TK (Taman Kanak-Kanak) sedang bermain, begitu bangga hati kita ketika melihat anak-anak tersebut bermain dengan penuh riang dan energiknya. Mereka dengan penuh ceria saling bercanda, bermain ayunan dan bahkan saling membantu antar teman. Terlihat tak muncul dari diri mereka suatu bentuk persaingan, kebencian ataupun iri terhadap teman mereka. Ketika diperintahkan oleh sang guru untuk membantu salah seorang temannya, dengan berebutan dan sukarela mereka akan membantu teman mereka yang mengalami kesusahan tersebut.
Dalam memberikan bantuan mereka tak pernah memikirkan apakah temannya berasal dari suku, agama ataupun dari tingkat ekonomi yang sama dengan mereka. Tak sungkan pula mereka saling bergandengan tangan ketika berjalan tanpa memperdulikan latar belakang teman tersebut.
Hal ini sungguh suatu sikap yang mengharukan bagi kita semua. Anak-anak kecil yang masih lugu, dengan tulus dan iklhas mau saling bergandengan tangan dan membantu satu sama lain. tidak pernah terlihat suatu persaingan di antara mereka.
Kadang jika kita telaah lebih dalam, apa yang diperlihatkan oleh anak-anak tersebut dapat dijadikan contoh bagi orang-orang tua mereka. Di mana sekarang para orang-orang tua atau boleh dikatakan dewasa memberikan contoh yang kurang baik. Mereka tidak pernah mau belajar dari anak-anak mereka. Para orang tua saling berantem dengan tetangga mereka, menjelekkan tetangga yang beda suku, agama dan tingkat ekonomi mereka. Orang menganggap bahwa suku, agama, keyakinan dan apapun yang berasal dari dirinyalah yang paling benar. Mereka saling berlomba menghujat satu sama lain tanpa ada rasa saling menghargai dan mengasihi.
Semoga mereka mau belajar dari anak-anak mereka yang masih Taman Kanak-Kanak.

Sabtu, 2008 April 19

MANAJEMEN STRESS

Manajemen atau penatalaksanaan stress, cemas dan depresi pada tahap pencegahan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu yang mencakup fisik (somatic), psikologik/psikiatrik, psikososial dan religius. Di bidang pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan stress, maka sebaiknya kekebalan yang bersangkutan perlu ditingkatkan agar mampu menanggulangi stressor (penyebab) psikososial yang muncul dengan cara hidup yang teratur, serasi, selaras dan seimbang antara dirinya dengan Tuhan, orang lain dan lingkungan alam sekitarnya.

Beberapa petunjuk di bawah ini dapat diamalkan oleh seseorang agar kekebalan terhadap stress dapat ditingkatkan sehingga yang bersangkutan tidak jatuh dalam keadaan stress.

  1. Makanan

    Makan dan minum hendaknya yang halal, serta tidak berlebihan. Jadwal makan hendaknya teratur dan diusahakan jangan sampai terlambat. Menu makanan hendaknya bervariasi, berimbang dan hangat. Sebab, makanan yang dingin dan monoton dapat menurunkan daya tahan atau kekebalan tubuh. Jumlah kalori makanan dan minuman hendaknya sedang dan wajar.

  2. Tidur

    Tidur adalah obat alamiah yang dapat memulihkan segala keletihan fisik dan mental. Tidur adalah kebutuhan mutlak bagi kebutuhan mahluk hidup, terutama manusia; oleh karena itu jadwal tidur hendaknya teratur.

  3. Olah Raga

    Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mental, olah raga adalah salah satunya.

  4. Rokok

    Tidak merokok adalah kebiasaan hidup yang baik bagi kesehatan dan ketahanan tubuh.

  5. Minuman Keras

    Dampak dari minuman keras dapat mengakibatkan Gangguan mental dan perilaku juga penyakit lever yang berlanjut pada kematian.

  6. Berat badan

    Orang dengan berat badan berlebihan(keegmukan/obesitas) atau sebaliknya akan menurunkan daya tahan terhadap stress. Oleh karena itu berat badan hendaknya seimbang dengan tinggi badan atau tipe tubuh atletis.

  7. Pergaulan

    Manusia adalah mahluk sosial; seseorang tidak dapat hidup sendiri atau menyendiri. Untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh terhadap stress, maka orang hendaknya bergaul, banyak relasi serta perluas pergaulan sosial; atau dengan kata lain perbanyaklah silaturahmi antar sesame yang serasi, selaras dan seimbang

  8. Waktu

    Untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental, maka pengaturan waktu dalam kehidupan sehari-hari menjadi amat penting. Sehubungan dengan hal tersebut seseorang hendaknya dapat mengatur waktu kehidupannya secara efektif dan efisien. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa produktifitas; sebaliknya jangan pula kekurangan waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan.

  9. Agama

    Seseorang yang beragama hendaknya jangan sekedar formalitas belaka, tetapi yang lebih utama mampu menghayati dan mengamalkan keyakinan agamanya itu, sehingga ia memperoleh kekuatan dan ketenangan daripadanya.

  10. Rekreasi

    Guna membebaskan diri dari kejenuhan pekerjaan atau kehidupan yang monoton, maka meluangkan waktu untuk rekreasi atau mencari hiburan (hiburan yang sehat) amatlah baik guna memulihkan ketahanan dan kekebalan fisik maupun mental.

  11. Sosial ekonomi (keuangan)

    Seseorang hendaknya dapat mengatur keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Senin, 2008 April 14

BELAJAR DARI " GIE"

Wah, akhirnya selesai juga aku baca buku Catatan Seorang Demonstran karangan Soe Hok Gie. Menyimak perjalanan hidup seorang aktivis mahasiswa ini sungguh mengharukan. Ketika kini banyak para aktivis mahasiswa yang berteriak dan bersuara atas nama rakyat, ternyata mereka hanya bertujuan untuk mendapat investasi politik. Seorang Soe Hok Gie yang notabene adalah warga keturunan Tionghoa, ternyata memiliki semangat nasionalisme yang luar biasa. ia tak pernah terlibat atau bergabung dengan organisasi politik apapun. Ia lebih senang bekerja dengan orang-orang yang memiliki kesamaan visi dan tanpa motivasi apapun kecuali untuk membela rakyat dan bangsanya.
Kini sosok seperti Gie sangat diharapkan untuk mendobrak segala ketidakteraturan yang terjadi di Indonesia. tokoh-tokoh nasional yang dulu ikut berteriak menggelorakan reformasi, kini mereka hanya bersuara demi kepentingan politik praktis dan partai mereka.
mungkin para tokoh-tokoh nasional kita harus banyak belajar dari seorang Soe Hok Gie....
"GIE KAMI MERINDUKANMU"